KUJANG PAJAJARAN

1KUJANG merupakan ikon Kota Bogor. Dulu, kujang dipakai sebagai senjata oleh Keluarga Besar Kerajaan Padjadjaran. Untuk terus mengenalkan sekaligus melestarikan ikon tersebut, Wahyu Affandi Suradinata (55), sudah lama menggeluti bengkel pembuatan barang warisan Sunda tersebut.

Kp. Parung Banteng RT 04/01 Kel. Katulampa Kec. Bogor Timur merupakan bengkel penyelesaian pembuatan kujang. Wahyu yang profesi sehari-harinya mengajar di beberapa SMK ternama di Kota Bogor mengaku menekuni usaha sampingan membuat senjata kujang sejak 1994.

7

Awal menekuni usaha ini, seperti dituturkan Wahyu, dimulai ketika dirinya sedang berada Sukawayana kawasan pantai selatan Cisoslok kab.Sukabumi. Saat tengah tertidur di salah satu gubuk, dia bermimpi bertemu dengan seseorang yang menyuruhnya mengambil bunga yang tertinggal pada sebuah batu ditepi sungai. Ketika mendatangi sungai itu, Wahyu menemukan benda yang tertancap di sebuah batu. Ternyata barang tersebut adalah kujang.

Dari situlah, Wahyu mencoba-coba bertanya kepada salah seorang pupuhu budayawan Sunda bernama Anis Jatisunda. Anis menyuruh menyimpan, dan kalau bisa, membuat duplikat barang langka tersebut.

Pada 1994, dengan segala keterbatasan, Wahyu akhirnya mampu membuat kujang untuk dipublikasikan ke khalayak. Hingga saat ini, usahanya bisa dibilang cukup maju. Pesanan pun mengalir. Bahkan, jika ada tamu negara yang mampir ke Kota Bogor, Wali Kota Bogor Diani Budiarto menjadikan kujang sebagai cendera mata. Seperti saat pejabat Hongaria datang saat mengikrarkan gong perdamaian dunia beberapa waktu lalu.

Sayangnya, kerja kerasnya mengukir kujang dari baja konvensional lantas banyak yang meniru. Wahyu mencontohkan, di daerah Sukabumi dan Bandung sudah ada yang menjiplak karyanya. “Tapi untungnya, mereka tidak paham betul dengan kujang, sehingga banyak perbedaan,” ujar Wahyu saat ditemui di bengkelnya, Kamis (8/1).

Usaha yang ditekuni bapak enam anak ini memang beda dari yang lainnya. Wahyu memahami betul budaya Sunda, sehingga ia mampu mengkreasi enam jenis kujang yang berbeda-beda. Di bengkelnya, terdapat enam jenis kujang, yakni kujang kuntul, siung, bangkong, jago, badak, dan naga.

“Keenam jenis kujang tersebut berbeda-beda. Bahkan, mata yang terdapat pada lempengan pun bervariasi. Kalau kujang ciung matanya ganjil mulai dari satu, tiga, lima, tujuh, dan sembilan. Kalau kujang kuntul matanya genap,” katanya.

Kujang yang tidak sembarangan dijual adalah kujang yang mempunyai mata 7 dan 9. Alasannya, dulu kujang tersebut dipakai oleh putra mahkota kerajaan dan raja. “Memang cuma dibor, tapi memiliki makna berbeda, sebab kujang dengan mata 7 hanya dipakai putra mahkota. Jadi kalau ada yang memesan harus saya liat dulu sejarah orang tersebut, apakah ada keturunan atau bukan,” ujarnya. (PK-5)

Sumber: Pikiran Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: