KUJANG PAJAJARA…

KUJANG PAJAJARAN

Sejak Kerajaan Pajajaran “bubar”, KUJANG tidak lagi dibuat oleh biasa yang membuatnya yaitu GURUTEUPA.  Alasannya ; Untuk menghilangkan “identitas” kePAJAJARANan.  Semua identitas Pajajaran sengaja dihilangkan untuk semakin menjauhi intervensi dan intimidasi Banten yang terus menerus melakukannya hingga kepedalaman wilayah Kerajaan Pajajaran pada waktu itu.  Semua identitas ! mulai dari nama-nama gelar kebangsawanan, atribut kerajaan, sampai kepada alat/pakarang/ageman para penggede kerajaan berupa KUJANG berusaha untuk dihilangkan.  

Baru pada permulaan tahun 1970an ada pengrajin logam dari Cibatu Sukabumi membuat kujang dari bahan KUNINGAN dengan cara di”cor”, dirapihkan lalu diberi aksara-aksara Arab ,

selain itu ada juga yang membuatnya dari bahan besi yang ditempa, beberapa waktu kemudian ada juga pengrajin besi dari Ciwidey Bandung membuat kujang yang sama, baik bentuk maupun ukurannya.  Tetapi tidak satupun yang membuat kujang-kujang itu mengerti mengenai bentuk, jenis, apalagi arti serta sejarahnya.

Awal tahun 1990an ada beberapa empu dari Madura yang membuat kujang, juga sama mereka tidak mengerti tentang kujang keculai bentuknya , yang mereka lihat dari gambar-gambar kujang yang terdapat pada museum-museum di daerha Jawa Barat.

Saat ini semakin banyak beredar replika kujang hasil karya para pengrajin keris dari daerah Madura, Jawa Tengah dan Yogya.  Sehingga masyarakat Sunda semakin terkecoh akan Kujang-kujang itu,  seolah-olah sudah berumur ratusan tahun,  karena dibuat dari bahan daur ulang benda/senjata lama/kuno yang dilebur kembali lalu dijadikan kujang.  Dan umumnya memiliki bentuk kujang yang kurang sesuai dengan kujang2 daerah asalnya Tanah Pasundan.

Beda dengan  di Jawa Tengah, Yogya, Jawa Timur dan Madura, yang masih memiliki beberapa Empu pembuat keris,  di Jawa Barat tidak ada satupun empu pembuat keris, juga termasuk pembuat kujang (Guruteupa). 

Kujang tempo dulu bukan ageman/pegangan rakyat biasa(somah),  tetapi merupakan ageman/pegangan para terah(teureuh) raja dan para pejabat kerajaan.  Sehingga jumlahnyapun terbatas, wajar kalau kujang jarang ditemukan.

Saya mulai mencoba membuat replika kujang-kujang ,  mulai pertengahan 1996 terbatas untuk teman/kerabat, tidak dijual bebas hingga 1999,  baru pada awal tahun 2000an membuatnya dengan jumlah yang lebih, itupun terbatas untuk para tokoh dan pejabat saja.

Bahan yang saya gunakan mulai dari bahan besi/baja sejenis hingga bahan besi/baja campuran/leburan. Dan semua kujang saya hiasi denga  PAMOR.

Kujang-kujang yang saya buat berdasarkan konsep ;  Kitab Pantun Bogor,  Museum Kasepuhan Cirebon, Museum Geusan Ulun Sumedang, Museum Siliwangi Bandung, Museum Sribaduga Bandung,  dan temuan-temuan dari para sesepuh yang masih menyimpannya di daerah Bogor, Banten, Sukabumi, Garut, dsb.

Jenis-jenis Kujang : Ciung, Kuntul, Jago, Naga, Bangkong, Badak.

Pamor-pamor : Megasirna, Tapaknanggala, Caringinkurung, Pakujajar, Hanjuang, Tirtasadana, Warugasungsang, Sekarkadaton, Nagabandang.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: