Tambahan Mengenai Kujang

KUJANG adalah sejenis pisau ageman/pegangan keluarga kerajaan Sunda, Galuh, Pajajaran tempo dulu. Diperkirakan sudah dipakai sejak masa kerajaan Tarumanagara terpecah menjadi 2 kerjaan, yakni :  GALUH sebelah timur Citarum dengan ibukotanya mulai dari Kendan, Karangkamulyan, Panjalu dan Kawali. Raja pertamanya adalah Wretikandayun.  SUNDA sebelah barat Citarum dengan ibukotanya Pakuan(Bogor). Raja pertamanya Tarusbawa.  Juga diperkuat dengan adanya seorang raja yang bergelar Prabu HULU KUJANG (Rakeyan Medang, 766-783 M).

Masa-masa itu hingga berakhirnya Kerajaan Pajajaran (1579 M), kujang merupakan simbol status bagi pemegangnya,  rakyat biasa(somah) tidak memeliki kujang sebagai ageman, kecuali kujang pamangkas yang khusus digunakan untuk membabat semak belukar (nyacar) untuk lahan kebun (huma).  Bersamaan dengan bakhirnya Kerajaan Pajajaran, maka berakhir pula pekerjaan Sang GURU TEUPA membuat kujang,  dengan demikian benda yang bernama KUJANG praktis sudah tidak dibuat lagi.

Mulai pada awal tahun 1970an ada pengrajin logam di Cibatu Sukabumi membuat kujang dari bahan kuningan untuk perhiasan dinding  rumah,  diikuti oleh pandai besi yang juga membuatnya dari bahan besi.  Bentuk dan jenisnya hampir sama semua, sebab dari ketiga orang pembuat kujang-kujang itu, tak satupun  yang mengetahui tentang JENIS, FUNGSI, apalagi  FILOSOFI nya.  Mereka bahkan ada yang mereka-reka menurut seleranya.

Baru pada akhir tahun 2000, guru kami yaitu ANIS DJATISUNDA  menulis tentang kujang yang bersumber dari naskah kuno PANTUN BOGOR dan memaparkannya pada ceramah tentang kujang di Museum Sri Baduga bandung,  pada November 2000.   Tapi tahun 1994 saya sudah diberi tahu tentang kujang itu oleh beliau dan membacanya walau masih berupa ketikan-ketikan yang bersambung, belum merupakan buku.

Mulai tahun 1995 saya mencoba membuat replika kujang yang foto-foto nya saya dapat dari museum Kasepuhan Cirebon, museum Geusan Ulun Sumedang, museum Siliwangi Bandung, museum Sri Baduga Bandung serta dari para sesepuh disekitar Sukabumi, Bogor dan Banten yang masih menyimpan/memeliharanya.

Hingga sekarang saya membuat kujang-kujang,  mulai dari ukuran kecil (pin) sampai yang berukuran besar, sesuai permintaan.  

1 Comment

  1. December 24, 2012 at 1:53 pm

    Reblogged this on Wahyukujang's Blog.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: